Tampilkan postingan dengan label Laporan Praktikum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Praktikum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

Laporan Praktikum : Galli Manini


I.       PENDAHULUAN
        Latar Belakang
Pada hewan multiseluler harus mengatasi masalah koordinasi kegiatan berbagai macam sel-selnya. Hewan memerlukan beberapa mekanisme yang digunakan oleh berbagai macam sel, jaringan, dan organ tubuh untuk berkomunikasi. Dengan ini semua fungsi struktur akan lebih efisien terkoordinasi dengan baik.
Salah satu cara sistem komunikasinya yaitu sistem endokrin (hormon). Sistem ini mengontrol fungsi tubuh dengan perantaraan zat kimia, yaitu hormon, yang diangkut ke seluruh tubuh dalam darah. Hormon-hormon ini kemudian diedarkan ke semua sel tubuh lainnya. Dalam beberapa hal, hormon-hormon ini akan mempengaruhi kegiatan semua sel tersebut. Hormon menggunakan efeknya hanya pada strukutur tubuh tertentu saja. Hormon-hormon tersebut akan setiap aktifitas dan sifat pada hewan khususnya pada manusia. Aktifitas dapat berupa aktifitas sosial, sexual, adaptasi, dan pola hidup.

Laporan Praktikum : Kemoreseptor pada Hewan


I.                   PENDAHULUAN
            Latar Belakang
Berbagai organ indera dan reseptor memungkinkan hewan untuk mengetahui perubahan-perubahan dalam lingkungannya sehingga dapat memberi respon adaptif yang tepat untuk mengatasi perubahan tersebut. Agar dapat bertahan hidup tiap organisme telah mengembangkan beberapa cara untuk mengadakan respon adaptif yang tepat terhadap perubahan lingkungan yang penting baginya dan menghindari untuk mengadakan respon terhadap isyarat yang tidak penting. Organ indera memungkinkan hewan menerima informasi untuk mendapatkan makanan, menemukan, dan menarik lawan jenisnya dan menghindar dari musuhnya, indera sangat penting dalam pertahanan hidup suatu organisme.

Laporan Praktikum : Efek Spinal pada Katak


I.       PENDAHULUAN
        Latar Belakang
Pada dasarnya, system-sistem organisme bekerja secara selaras dan teratur dalam menyelenggarakan aktivitas metabolisme tubuh secara keseluruhan. Untuk mengontrol dan mengatur kerja system organ tubuh kita memiliki suatu system yang dikenal sebagai system koordinasi atau system syaraf.
Pada umumnya system syaraf mengatur aktivitas alat-alat tubuh yang mengalami perubahan cepat seperti pergerakan otot rangka, pergerakan otot polos, dan sekresi kelenjar. Organisasi system syaraf akan menimbulkan tanggapan terhadap rangsangan yang diterima. Salah satu tanggapan yang akan dipelajari dalam percobaan ini yaitu gerak refleks.
Dimana gerakan ini terjadi tanpa disadari terhadap stimulus. Pada percobaan ini yang ingin diketahui yaitu gerakan refleks terhadap stimulus yang berupa tekanan dan zat kimia tertentu.

Minggu, 13 Maret 2011

Pengaruh kombinasi ZPT terhadap respon pertumbuhan dan perkembangan pada kultur akar dan hipokotil tomat (Lycopersicum esculantum)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pelaksanaan teknik kultur jaringan ini berdasarkan teori sel seperti yang dikemukakan oleh Shleiden dan Schwann, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Totipotensi adalah kemampuan setiap sel,darimana saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dalam lingkungan yang sesuai akan dapaat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Hendaryono dan Wijayani, 1994).
Teknik kultur jaringan akan dapat berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukan kalus, penggunaan organ, penggunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat dibutuhkan, tetapi sebaiknya dipilih bagian tanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya. Bila menggunakan embrio atau bagian-bagian biji yang lain sebagai eksplan, yang perlu diperhatikan adalah kemasakan embrio, waktu imbibisi, temperatur dan dormansi (Hendaryono dan Wijayani).

Konsentrasi zat pengatur tumbuh (ZPT) pada pertumbuhan kultur endosperm biji mahkota dewa


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.                   Latar Belakang
Pertumbuhan suatu tanaman meliputi tumbuh dan berkembang (diferensiasi) dari sel-sel atau jaringan. Biasanya proses tumbuh dan diferensiasi ini berjalan bersamaan selama pertumbuhan. Melalui teknik kultur jaringan dapat diamati proses tersebut yang berupa pembentukkan massa sel yang belum berdiferensiasi yang disebut kalus. Bila kalus ini mengalami regenerasi maka akan terbentuk tunas dan akar, yang akhirnya terbentuk tanaman lengkap (Salisbury dan Ross, 1995).
Penelitian pembentukan kalus pada jaringan terluka pertama kali dilakukan oleh Sinnott pada tahun 1960. Pembentukan kalus pada jaringan luka dipacu oleh zat pengatur tumbuh auxin dan sitokinin endogen (Dodds & Roberts, 1983).  Secara in vivo, kalus pada umumnya terbentuk pada bekas-bekas luka akibat serangan infeksi mikro organisme seperti Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan nematoda. Kalus juga dapat terbentuk sebagai akibat stress (George & Sherrington, 1984). Kalus yang diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut tumor.